Senin, 23 Januari 2012

Kenapa Awan Bersedih?


Sebuah pagi yang cerah. Langit tampak biru bersih karena semalam telah hujan cukup lebat. Gelembung awan berpawai ceria dari arah utara sebuah gunung. Merekalah awan utara yang sedang bahagia. Disisi lain datang  gerombolan awan dari selatan gunung itu, dan mereka adalah awan selatan. Matahari yang sinarnya begitu hangat ada diantara awan-awan itu.
“Hai, awan utara! Ceria sekali kamu hari ini?” Sapa Matahari kepada awan utara yang sedari tadi tersenyum bahagia.


“Hai, Matahari! Kamu benar. Kami sedang bahagia. Betapa tidak, lihat itu!” Jawab awan utara sambil menunjuk kebawah, ke daerah yang ada di bawahnya, tepat disisi utara gunung.
“Semalam dan hari-hari sebelumnya, kami selalu menumpahkan hujan ke tanah itu, hingga tanah itu menjadi tanah yang subur, penduduknya makmur. Kami sangat bersyukur dengan tugas yang Allah titipkan pada kami. Kedatangan kami mereka nanti karena membawa keuntungan bagi kehidupan. Lihatlah! Anak-anak bermain dengan bahagia, kami jadi ikut bahagia,” Jelas awan utara dengan diakhiri tawa bahagia.

“Kamu sungguh beruntung,” Sahut awan selatan tiba-tiba dengan nada dan wajah yang melas meratap.
“Kamu kenapa terlihat sedih seperti itu, wahai awan selatan?”Tanya matahari kemudian.
“Iya, dari tadi cemberut terus kenapa, sahabat awanku?” Sambung awan utara.
“Kami sedang bersedih hati,” Ujar awan selatan.


“Haaaah!!!! Kenapa????” Matahari dan awan utara tercengang heran.
“Kami tidak seberuntung kalian, awan utara. Lihatlah kesana!” Awan selatan menunjuk daerah sisi selatan gunung. Tampak disana pemandangan yang sangat bertolak dari pemandangan sisi utara gunung.
“Hanya kerusakan yang ada, rumah-rumah roboh, pepohonan tumbang, banjir, hingga anak-anak terserang berbagai penyakit. Itu karena aku mendapat tugas untuk mengirimkan air bah, hujan lebat berangin topan. Aku menyebabkan kerusakan itu semua!” Terang awan selatan.

“Wahai, awan selatan! Bukankah hujan yang kau turunkan adalah rahmat Allah? Tapi lihatlah hutan digunung bagian selatan itu. hutan itu gundul dan tidak terawat, sampah-sampah itu menyumbat aliran sungai. Penduduk selatan gunung begitu mudah menebangi hutan. Mereka tidak menjaga keseimbangan alam, tidak menjaga lingkungan. Hal itu sama dengan tidak mensyukuri nikmat Allah. Allah menegur mereka dengan bencana melanda,” Matahari menanggapi dengan bijak.
“Bagaimanapun kita harus mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan amanah kita adalah mulia,”
Mendengar itu, awan selatanpun terhapus sedih hatinya, dan mulai bermain kejar-kejaran dengan awan utara dengan hangatnya matahari.
Adik-adik! Ayo, kita syukuri nikmat Allah dengan menjaga lingkungan hidup kita.....[dod/syilvi/lpuq]

Minggu, 08 Januari 2012

Pemburu dan Peternak


Pemburu dan peternak itu bertetangga. Namun anjing milik pemburu selalu mengganggu domba-domba si peternak, bahkan sering mencederai ternaknya. Si peternak sudah habis kesabarannya. Akan tetapi, alih-alih membalas sikap si pemburu yang tak peduli dengan perbuatan buruk pula, si peternak malah membalasnya dengan menghadiahi anak-anak si pemburu dengan anak-anak domba. 

Tentu saja keluarga si pemburu menerima hadiah itu dengan penuh sukacita. Tak lama, putra dan putri mereka mulai asyik bermain dengan domba-dombanya. Untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si pemburu dengan sukarela mengurung anjing-anjing pemburunya. Sejak saat itu, domba-domba si peternak aman. 

Kemudian, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas sikap dermawan si peternak, pemburu itu sering membagi hasil buruannya kepada keluarga peternak. Si peternak membalasnya dengan mengirimkan keju dan susu kepada tetangganya itu. Dalam waktu singkat, pemburu dan peternak sudah menjadi teman baik. 

Nah, teman-teman yang luar biasa! Tak perlu emosi saat kita diperlakukan buruk. Ada kekuatan luar biasa dari kasih sayang yang kita berikan yang bisa meluluhkan perbuatan buruk.[dod.bbgsbr]