Kamis, 10 Mei 2012

Ayo Berbuat Baik!




Uqi dan Badung pulang sekolah bersama. Mereka jalan kaki melintasi jalan yang tidak seberapa lebar ukurannya. Dalam perjalanan yang baru ditempuh beberapa meter, Uqi melihat ada batu yang lumayan besar ada di tengah-tengah jalan. Seketika itu juga ia mengambil dan meletakkan batu itu di pinggir jalan. Melihat tindakan Uqi, Badung menggerutu kesal.
“Mengapa kamu meminggirkan batu itu, Qi? Apa untungnya kamu melakukan itu?”
“Kamu tahu kan kalau batu itu tidak disingkirkan maka batu itu bisa membuat pemakai jalan terganggu,” Jelas Uqi.
“Ah, kata-katamu seperti pelajaran yang diberikan Ustadzah di sekolah,” Sanggah Badung.
“Tapi kan……”
“Sudah ah!..... dari tadi aku salah terus. Tadi diceramahi Ustadzah sekarang kamu yang ceramah. Pusing…..!!!!”
“Kamu sih yang tidak taat. Tidak memakai kaos kaki ke sekolah, tidak mengerjakan PR, jahil sama teman-teman. Benar saja Ustadzah menasehati,” Kata Uqi. Dan Badung semakin kesal……
“Ah kamu kayak nenekku saja ngomel terus. Ayo pulang….!” Jawab Badung.
Dan mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama berjalan terdengarlah kaleng ditendang…..
Klontengggg teng tenggg……….. Siapa lagi kalau bukan Badung yang menendang kaleng itu.
Belum selesai kaget dengan bunyi tendangan kaleng, disusullah bunyi klakson sebuah mobil aga mereka lebih minggir. Tiiiinnntiiiinnnnnnnn………!
“Minggir, Dung!” Teriak Uqi. Badun yang diteriaki cuek saja…….
Kloonnnteeeeeng tengggg tenggggg….... Bunyi kalenf itu terdengar lagi tapi bukan Badung yang menendang kali ini. Dan……
“Awas!!!!!.............” Uqi berteriak lebih kencang lagi sambil menarik baju Badung. Dengan agak terseret, Uqi membawa Badung jatuh ke semak-semak di pinggir jalan. Dan….
Brrraaaaakkkkk……
Sebuah motor oleng hamper saja menabrak Badung karena melindas kaleng tendangan Badung tadi. Alhamdulillah, Uqi menarik badung sehingga mereka tidak tertabrak mntor itu.
“Itu hasil perbuatanmu menendang kaleng yang sudah benar di pinggir jalan. Tadi aku meminggirkan batu ditengah jalan juga untuk menghindari bahaya seperti ini,” Ungkap Uqi.
“Allah swt. Akan membalas amal-amal kita. Untuk itu jangan bertanya imbalan kebaikan saat kita melakukan kebaikan, karena Allah pasti akan membalas. Alhamdulillah kita selamat dari mobil dan motor tadi.”
Sambil menangis, Badung berkata, “Terima kasih ya, Qi!” dan mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan hati-hati.[]

Kamis, 12 April 2012

Ini Buat Aku

Dibelakang bangunan rumah yang sederhana, hiduplah seekor ikan kecil di sebuah kolam yang tidak seberapa luasnya. Disamping kolam tersebut dengan gagahnya pohon yang rindang berdiri. Daunnya yang rimbun menghalangi terik matahari ke kolam sehingga ikan tak pernah kepanasan.

Sore ini angin berhembus sejuk. Wwuuuuhhssst! Daun pohon yang kering jatuh ke kolam. Si ikan sangat senang dan menyibukkan diri memainkan daun kering itu.

Saat si ikan asyik bermain-main dengan sehelai daun, datanglah kucing yang tidak diketahui dari mana ia datang. Dengan sombong ia meloncat naik ke bibir kolam ikan. Polah kucing membuat ikan kaget.

“Hai kucing, apa yang kamu lakukan disini?” sapa ikan dengan penasaran.
“Tenanglah ikan! Aku tidak akan memakanmu,” Jawab kucing dengan diiringi tertawa keras.
“Benarkah? Lalu kau ingin apa?” Tanya ikan lagi.
“Benar, karena melihatmu saja aku sudah kasihan,” jawab kucing dengan sombong.
“Apa maksudmu, kucing? Aku bahagia kok,” Ikan penasaran dengan maksud kucing.

“Bagaimana kau bahagia? Kamu tidak sebebas aku. Hidupmu hanya di kolam yang sempit ini. Padahal dunia ini begitu luas. Kalau kau tinggal di kolam ini, bagaimana makanmu jika tak ada manusia yang memberi? Akulah yang beruntung, aku bebas kemana-mana mencari makanan dan bersenag-senang. Hahaha.......!”

Mendengar itu si ikan menjawab dengan tenang, “Aku bahagia. Kita harus yakin bahwa yang mengatur semua ini adalah Allah swt., termasuk tentang rezeki. Aku diciptakan untuk hidup di air, maka Allah akan memberiku rezeki disini. Rezekimu di alam bebas sana karena kamu diciptakan untuk hidup disana.

“Mana mungkin rezeki datang sendiri? Kita kan harus berusaha. Dunia ini luas, masak kamu hanya berusaha mencari makan di kolam yang sempit ini?’
“Terserah kamu, kucing! Aku tetap yakin kalau Allah menciptakan semua ini tidak ada cacatnya. Semua pasti sudah disiapkan dan diatur oleh-Nya,” Jawab ikan dengan yakin.

Percakapan kucing dan ikan terhenti karena tiba-tiba ada suara pertengkaran dari atas pohon. Setelah diamati, ternyata itu suara dua ekor cicak yang sedang berebut makanan di dahan pohon. Tanpa perintah, kucing dan ikan kompak melihat pertarungan itu. salah satu cicak lari membawa makanan, cicak satunya lari mengejar,begitu terus cukup lama, sampai kemudian......

Plluuung!, Huuuppp!
Makanan jatuh ke kolam ikan, dan tanpa pikir panjang ikan langsung memakannya dengan lahap. Dua cicak, dan kucing melotot sambil melongo saja memandang makanan itu habis dilahab ikan.

“Ini buat aku, bukan buat kamu.” Seru si ikan dengan ceria.
Nyam....nyam....nyam....!

Add caption
Adik-adik! Begitulah Allah swt menciptakan makhluknya. Pasti Allah sudah mengatur d`n menjamin rezeki. Untuk itu semangatlah dan terus bersabar, jangan bertengkar atau menyombongkan diri! Karena rezeki untukmu tidak akan tertukar dengan teman-temanmu. OK? Sip!,[Syilvi]


Senin, 23 Januari 2012

Kenapa Awan Bersedih?


Sebuah pagi yang cerah. Langit tampak biru bersih karena semalam telah hujan cukup lebat. Gelembung awan berpawai ceria dari arah utara sebuah gunung. Merekalah awan utara yang sedang bahagia. Disisi lain datang  gerombolan awan dari selatan gunung itu, dan mereka adalah awan selatan. Matahari yang sinarnya begitu hangat ada diantara awan-awan itu.
“Hai, awan utara! Ceria sekali kamu hari ini?” Sapa Matahari kepada awan utara yang sedari tadi tersenyum bahagia.


“Hai, Matahari! Kamu benar. Kami sedang bahagia. Betapa tidak, lihat itu!” Jawab awan utara sambil menunjuk kebawah, ke daerah yang ada di bawahnya, tepat disisi utara gunung.
“Semalam dan hari-hari sebelumnya, kami selalu menumpahkan hujan ke tanah itu, hingga tanah itu menjadi tanah yang subur, penduduknya makmur. Kami sangat bersyukur dengan tugas yang Allah titipkan pada kami. Kedatangan kami mereka nanti karena membawa keuntungan bagi kehidupan. Lihatlah! Anak-anak bermain dengan bahagia, kami jadi ikut bahagia,” Jelas awan utara dengan diakhiri tawa bahagia.

“Kamu sungguh beruntung,” Sahut awan selatan tiba-tiba dengan nada dan wajah yang melas meratap.
“Kamu kenapa terlihat sedih seperti itu, wahai awan selatan?”Tanya matahari kemudian.
“Iya, dari tadi cemberut terus kenapa, sahabat awanku?” Sambung awan utara.
“Kami sedang bersedih hati,” Ujar awan selatan.


“Haaaah!!!! Kenapa????” Matahari dan awan utara tercengang heran.
“Kami tidak seberuntung kalian, awan utara. Lihatlah kesana!” Awan selatan menunjuk daerah sisi selatan gunung. Tampak disana pemandangan yang sangat bertolak dari pemandangan sisi utara gunung.
“Hanya kerusakan yang ada, rumah-rumah roboh, pepohonan tumbang, banjir, hingga anak-anak terserang berbagai penyakit. Itu karena aku mendapat tugas untuk mengirimkan air bah, hujan lebat berangin topan. Aku menyebabkan kerusakan itu semua!” Terang awan selatan.

“Wahai, awan selatan! Bukankah hujan yang kau turunkan adalah rahmat Allah? Tapi lihatlah hutan digunung bagian selatan itu. hutan itu gundul dan tidak terawat, sampah-sampah itu menyumbat aliran sungai. Penduduk selatan gunung begitu mudah menebangi hutan. Mereka tidak menjaga keseimbangan alam, tidak menjaga lingkungan. Hal itu sama dengan tidak mensyukuri nikmat Allah. Allah menegur mereka dengan bencana melanda,” Matahari menanggapi dengan bijak.
“Bagaimanapun kita harus mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan amanah kita adalah mulia,”
Mendengar itu, awan selatanpun terhapus sedih hatinya, dan mulai bermain kejar-kejaran dengan awan utara dengan hangatnya matahari.
Adik-adik! Ayo, kita syukuri nikmat Allah dengan menjaga lingkungan hidup kita.....[dod/syilvi/lpuq]

Minggu, 08 Januari 2012

Pemburu dan Peternak


Pemburu dan peternak itu bertetangga. Namun anjing milik pemburu selalu mengganggu domba-domba si peternak, bahkan sering mencederai ternaknya. Si peternak sudah habis kesabarannya. Akan tetapi, alih-alih membalas sikap si pemburu yang tak peduli dengan perbuatan buruk pula, si peternak malah membalasnya dengan menghadiahi anak-anak si pemburu dengan anak-anak domba. 

Tentu saja keluarga si pemburu menerima hadiah itu dengan penuh sukacita. Tak lama, putra dan putri mereka mulai asyik bermain dengan domba-dombanya. Untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si pemburu dengan sukarela mengurung anjing-anjing pemburunya. Sejak saat itu, domba-domba si peternak aman. 

Kemudian, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas sikap dermawan si peternak, pemburu itu sering membagi hasil buruannya kepada keluarga peternak. Si peternak membalasnya dengan mengirimkan keju dan susu kepada tetangganya itu. Dalam waktu singkat, pemburu dan peternak sudah menjadi teman baik. 

Nah, teman-teman yang luar biasa! Tak perlu emosi saat kita diperlakukan buruk. Ada kekuatan luar biasa dari kasih sayang yang kita berikan yang bisa meluluhkan perbuatan buruk.[dod.bbgsbr]